Apa Kabar, Gubraker Hongkong ?

Keningnya sontak berkerut. Bola matanya yang tajam dengan alis lentik berwarna hitam legam perlahan mengerucut. Tak ada secuil kalimatpun yang terlontar dari bibir tipis tanpa gincu itu. Hanya tarikan nafas berat yang tersisa. Seolah ada beban berton - ton yang menjejali otak dan pikirannya. 

"Biar Kevin aja yang ngomong" ucapnya sembari mengarahkan pandangannya pada sosok tambun berambut pendek disampingnya. 

 "Aku ?" bingung. 

"Nggak...nggak...nggak. Cindy aja" lemparnya pada anggota Gubrak cabang Hongkong lainnya. 

Dan reaksi yang kami lihatpun tak jauh beda. Sepertinya mereka enggan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di komunitas Gubrak Indonesia cabang Hongkong. Kenapa cabang Hongkong yang dulu sangat solid dan eksis kini terlihat lesu dan tak berdaya.
Pantauan kami di lapangan, base camp Gubraker di kawasan Causeway Bay memang tak lagi seriuh dulu. Hanya beberapa gubraker yang menyempatkan diri menghabiskan liburan di sana. Tak lebih dari enam orang. Itupun separuhnya adalah wajah - wajah baru yang belum kami kenal. Meski obrolan diantara mereka terlihat cair, tapi gregetnya masih kurang. Jauh berbeda dengan suasana setahun silam. Selain jumlahnya lebih banyak, keakraban diantara mereka juga lebih renyah. 


Catatan gubraker.com, aktifitas cabang Hongkong dari dulu memang dikenal cukup menonjol. Kegiatan yang mereka lakukan tidak melulu hanya sebatas kumpul - kumpul semata. Banyak hal positif yang telah dihasilkan. Mengumpulkan donasi untuk disalurkan pada pihak yang membutuhkan, menggelar donor darah, arisan dan selalu ambil bagian dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas. 

"Nanti saya kasih tahu".

Perempuan dengan balutan busana warna putih dengan bawahan merah yang kami kenal bernama Saviena itu berbisik pada gubraker.com. Sedetik kemudian kami baru paham, mungkin ia merasa tidak enak untuk bicara terus terang soal kondisi terkini cabang Hongkong di depan anggota - anggota baru. Akhirnya, kamipun harus rela menyisakan waktu untuk menunggu. Dan untuk mengisi waktu, kontributor gubraker.com mencoba mengambil gambar dengan iming - iming 'nanti masuk koran online loh'.

Matahari perlahan bergeser ke barat. Menyisakan bayangan sepenggalah. Pertanda sore sebentar lagi akan menjemput. Acara terakhir yang ditunggu tunggupun tiba. Makan - makan. Entah dibeli didapat dari mana, menu makanan yang disajikan ternyata tak jauh beda dengan makanan Indonesia. Nasi Padang.

"Kalau di tempat kerja, susah cari beginian" celetuk Cindy.

"Palingan roti tawar. Atau kalau nggak, ya ubi. Hehehehe ..." lanjutnya terkekeh.

"Ngomong - ngomong, seporsi Nasi Padang begini harganya berapa di sini ?" tanya kami.

"Nggak mahal. Cuma 60" Kevin.

"Ribu rupiah ?" masih belum paham.

"Dollar Hongkonglah".

"100 ribu rupiah ?".

"Ya".

"Tapi itu yang standar. Kalau lauknya macem - macem ya bisa lebih" sahut Cindy.

"Mahal juga ya" kami geleng geleng.

"Trus, kalau misalnya ada TKW yang nggak doyan menu lokal dan hanya doyan makanan Indonesia gimana ?" tanya kami menyelidik.

"Ya kudu belilah" Saviena.

"Abis dong gajinya buat makan ?".

"Bukan habis lagi. Tapi nombok" celetuk gadis belia bertubuh kecil dengan kaos bertuliskan 'Gubraker Hongkong' yang duduk di posisi paling ujung.

Sekilas, makanan Indonesia yang di jajakan di Hongkong tidak jauh beda dengan menu serupa di dalam negeri. Hanya saja dari segi rasa, masih lebih lezat yang dijajakan di Indonesia. Entah kenapa bisa begitu.

Setelah makan bersama selesai dan tampaknya hari semakin sore. Satu persatu dari mereka pamit untuk pulang ke tempat kerjanya masing - masing atau melanjutkan liburan di tempat lain. Hanya tersisa tiga orang. Cindy, Saviena dan Kevin. Dua diantaranya kami ketahui memang anggota senior komunitas Gubrak cabang Hongkong.

"Yahhh...beginilah keadaannya" Saviena membuka cerita.

"Kendalanya macam - macam. Ada yang pulang kampung untuk seterusnya. Ada yang sibuk beraktifitas di tempat lain. Ada yang mikir mau nikah. He he he....".

"Kita nggak bisa paksa juga. Kan kalau kata Komandan (merujuk ke ketua Gubrak), di komunitas nggak boleh ada kekangan. Semua harus sukarela. Wong ora bayaran wae kok mekso, katanya gitu" imbuh Cindy.

"Kalau ketemuan kecil - kecilan kayak gini sih sering. Lala, mbak Anna, Jutex, Comal, mbak Mamiek dan lain - lain suka ketemu. Tap ya gitu, nggak bisa bareng - bareng semua kumpul. Pinginnya sih kumpul bareng kayak dulu lagi. Trus ada yang diobrolin untuk komunitas. Kita mau bikin apa gitu. Tapi....ya gimana lagi" Kevin menjelaskan.

"Terus, rencana ke depan gimana ?" tanya kami.

"Yo wis, mlaku sak onone ae. Kuat dilakoni, gak kuat tinggal ngosek WC. Wkwkwkwk..." timpal Cindy yang dibarengi dengan ledakan tawa semua orang.

Hidup terkadang memang begitu
Ada yang datang dan berlalu
Ada riang, juga tangis sendu
Tak selalu harus senang, adakalanya pilu

Tapi...
Persahabatan 
Tetaplah persahabatan
Jika raga tak terjangkau tangan
Maka batin yang menjerit kerinduan

Hongkong, 24 September 2017