DILEMA CINTA

"Manusia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga"
Pict : downloadgambarkata.com

Ketika kita melakukan sesuatu, yang ada dalam hati kita tentu adalah harapan agar mendapatkan imbalan yang layak, dan kalau perlu berlebih. Itu wajar dan sangat manusiawi. Sah sah saja, kita bermimpi, sebab dengan begitu kehidupan akan terus berjalan, semangat akan terus menyala dan dunia menjadi hingar bingar.
Seorang pelajar, ia giat belajar dan haus akan ilmu pengetahuan. Dengan harapan kelak ia bisa menjadi manusia yang pintar. Pedagang, ia gigih mengumpulkan kepingan uang dengan harapan kelak ia menjadi orang kaya. Para pecinta, mereka berjuang dengan segenap jiwa raga demi berharap mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan banyak lagi perumpamaan lainnya.

Manusia dikaruniai dua hal oleh sang pencipta. Nafsu dan nurani. Nafsu mendorong manusia untuk terus berkreasi, menciptakan pencapaian baru, menghadirkan rasa ingin dan mengajak manusia untuk mewujudkan hasratnya. Sementara nurani, mendorong manusia untuk tetap menginjak bumi, bersyukur, ikhlas dan memandang segala sesuatunya secara wajar. Dua hal inilah yang akhirnya menciptakan konflik batin. Antara keinginan dan rasa syukur, antara mimpi dan kenyataan serta seringkali antara kebenaran dan kebatilan. Nafsu mengajak kita untuk selalu merasa kurang, sementara nurani mengajak kita untuk merasa cukup.

Cinta. Tidak bisa dipungkiri selalu menyertakan dua kutub diatas dalam posisi yang senantiasa berseberangan. Oleh sebab itu, perjalanan cinta seseorang, mau tidak mau, akan selalu dikawal dan di kontrol oleh kedua hal tersebut. Jika nafsu yang lebih mendominasi, maka logikanya menjadi mandeg dan kadang terabaikan. Tak heran, kemudian muncul istilah 'cinta itu buta'. Sebab cinta yang dikuasai oleh nafsu menjadikan seseorang melupakan apa saja. Melupakan kawan, melupakan keluarga, melupakan hal lainnya, bahkan dia juga lupa akan penderitaannya sendiri. Tapi, jika nurani lebih mendominasi, maka akal sehat yang tercipta. Segala sesuatunya dilandaskan pada azas manfaat. Apakah itu memberi manfaat pada diri sendiri dan orang lain atau tidak, kelangsungan percintaan ditentukan.

"Manusia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga"
Kenapa bisa demikian ?.

Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya kita sejenak intropeksi diri sendiri. Menggali kembali pengalaman pengalaman hidup yang pernah kita lalui. Lalu tanyakan pada diri sendiri, sudahkah kita mendapatkan yang kita inginkan ?.

Dalam sebuah keinginan, selalu terselip mimpi. Mimpi bisa bahagia, mimpi bisa meraih kesenangan, dan mimpi menggapai kenyamanan.

Si fulan adalah pejuang cinta yang gigih, ia rela melakukan apa saja demi mendapatkan cintanya. Dan demi itu ia rela berlaku layaknya hamba sahaya. Lalu kegigihannya beroleh hasil. Ia bisa mendapatkan pujaan hatinya melalui sebuah drama perkawinan yang itu ia anggap sebagai sebuah pencapaian akhir dari seluruh keinginannya.

Lantas, apakah dengan begitu ia kemudian mendapatkan rasa bahagia, senang dan nyaman ?. Belum tentu.
Nafsu itu mendorong seseorang untuk terus berkreasi, menciptakan hal baru dan meminta lebih. Setelah ia mendapatkan hasil melalui ritual perkawinan, ia dihadapkan pada dua hal. Bagaimana mempertahankan yang sudah ia miliki, kemudian bagaimana ia bisa mengendalikannya sesuai yang diinginkan.

Menghadapi sesama manusia tidaklah sama dengan berinteraksi dengan benda mati. Apa yang ada dalam diri kita juga ada dalam dirinya. Apa yang tidak ada dalam diri kita juga tidak ada dalam dirinya. Jika kita memiliki hasrat atau niat untuk menguasai, mengatur dan mengendalikan, maka iapun sama. Oleh sebab itu, apa yang kita inginkan tentu akan selalu berbenturan dengan keinginannya pula.

Disinilah kenapa manusia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga.

Mengejar cinta tak ubahnya seperti mengejar bayang bayang kita sendiri. Semakin kita kejar, ia semakin menjauh dari kita. Tapi jika kita diam, bayangan itu akan menempel ketat dan terus memburu kita. Begitulah adanya cinta. Apapun status dalam sebuah hubungan. Apakah itu perkawanan, persaudaraan, pacaran maupun pernikahan, akan mengalami hal yang sama. Makin kita kejar, ia semakin menjauh.

Jalan terbaik adalah mengembalikan supremasi nurani, menegakkan akal dan pikiran. Jika dengan perasaan, segala sesuatunya masih buntu, sebaiknya memang perlu menggunakan logika. Sangat naif, jika kita mengejar sesuatu yang padahal dia sama sekali tidak pernah menganggap kita penting. Lebih tragis lagi jika kita mengejar sesuatu yang kita menganggapnya sangat penting, namun tidak jua kita dapatkan. Sementara kita lupa, ada banyak orang yang menganggap diri kita penting, tapi kita abaikan.

Perhatikan petuah cinta ini ...

"Berdirilah bersama dengan orang orang yang begitu gigih membelamu, sebab kemuliaanmu terletak pada bagaimana sikapmu menghargai pengorbanan orang di sekitarmu"

"Bangunlah mahligai biru dengan orang yang siap sedia bertengkar denganmu selamanya tanpa merasa bosan. Sebab disitulah engkau akan mengecap manisnya cinta"

"Yang membuatmu merasa nyaman bukan karena sesuatunya telah engkau dapatkan, akan tetapi mensyukuri yang sudah kau dapatkanlah yang membuatmu nyaman"

"Jika cinta, membuat nuranimu terjaga, maka bertahanlah. Dan pergilah jika itu justru membuatmu lupa segalanya".

"Alasan untuk pergi, adalah karena adanya harapan. Sementara alasan bertahan adalah rasa nyaman. Pertama hanya sebatas asa, dan kedua adalah fakta".