Harlah #6UBRAK dan Penguatan Struktur Lokal

Sebelum 2015, - ketika organisasi ini baru menginjak usia ke 4 sejak didirikan pada 20 Maret 2010, mobilitas komunitas boleh dikatakan masih sangat terbatas. Pada masa itu, jejaring sosial (terutama facebook) menjadi tumpuan paling utama bagi Gubraker dalam mengaplikasikan ide-idenya. Kami bertemu, berkomunikasi, saling mengenal satu sama lain serta mengkonsolidasikan organisasi dari sana. Dan sebagai corongnya, komunitas menyediakan media online Gubrak (www.gubraker.com & www.gubrakindonesia.com ) serta layanan sms bangun subuh rutin bagi para Gubraker (sebutan anggota komunitas).
Kopdar Gubraker di acara Haul Gusdur

Pertemuan di dunia nyata memang sudah terbentuk sejak awal. Akan tetapi intensitasnya masih sangat rendah. Itupun baru sebatas ramah tamah, mewacanakan ide atau hanya ‘ngopi’ bareng belaka. Belum ada tindakan atau aksi nyata yang bisa kita lakukan. Kalaupun ada kegiatan semisal jajak pendapat tentang isu-isu tertentu, media utamanya lagi-lagi masih mengandalkan jejaring sosial.
Wacana penguatan organisasi di tingkat lokal memang sempat muncul di awal – awal berdirinya organisasi. Setidaknya ada empat wilayah potensial, dimana anggota yang berdomisili di sana jumlahnya signifikan,yang bisa dijadikan project pilot berdirinya organisasi lokal Gubrak. Di antaranya, Sumenep, Blitar, Cirebon dan Jakarta. Khusus untuk Sumenep (Madura) penulis memang belum sekalipun berkunjung ke sana, tapi di tiga lokasi lainnya (apalagi Jakarta) setidaknya kami pernah bertemu di dunia nyata. Namun sayang, kendala teknis maupun non teknis membuat segala sesuatunya menguap begitu saja. Pun demikian, hal itu tidaklah serta merta menyurutkan langkah kami. Dalam pikiran penulis, seagresif apapun sebuah komunitas, jika hanya bermain di dunia maya, maka eksistensinya tetap akan terancam. Kita butuh kaki – kaki yang kokoh untuk melangkah. Butuh tangan – tangan terampil untuk mengaplikasikan gagasan. Bukan hanya wacana dalam otak semata. Oleh karena itu, gagasan penguatan organisasi di tingkat lokal tetap menjadi agenda penting bagi komunitas. Entah kapan, dan dimana.
Setelah sekian lama kami menunggu, akhirnya momentum itu datang juga. Pada awal 2015, untuk pertama kalinya Gubrak lokal terbentuk. Lokasinya justru bukan di tempat yang dari awal kita prediksikan (Sumenep, Blitar, Cirebon dan Jakarta), tapi justru nun jauh di negeri seberang. Tepatnya Hongkong. Lucunya lagi, proses terbentuknya Gubrak Hongkong terjadi secara tidak sengaja. Berawal dari hiruk pikuk Pilpres 2014 yang mana penulis pada waktu itu ikut ambil bagian dalam aksi dukung mendukung, bahkan sempat mencetuskan sebuah wadah organisasi relawan. Sesuatu yang sebenarnya menyalahi garis perjuangan organisasi [Untuk manuver off side ini, ada imbas yang harus dibayar oleh komunitas. Setidaknya benih friksi yang mengarah perpecahan mulai tumbuh di komunitas. Dan tidak sedikit yang memprediksikan kalau komunitas ini akan segera kolaps hingga gulung tikar. Tapi sepertinya takdir berkata lain].
Penulis ingat sekali, bagaimana waktu itu saya berkenalan dengan seorang pendukung salahsatu capres di laman media sosialnya. Proses pertemanan di jejaring sosialnyapun sebenarnya terjadi bukan karena kami sesama pendukung calon, tapi karena tergelitik dengan nama akun yang mirip dengan nama anak sulung saya. Dari situ komunikasi lantas terjalin, hingga akhirnya penulis mengenalkan komunitas Gubrak. Dia, yang ternyata berdomisili di Hongkong sebagai buruh migran akhirnya tertarik untuk bergabung. Dan mulailah ia mengenalkan komunitas Gubrak pada rekan – rekannya yang sebagian besar merupakan pendukung salahsatu kandidat capres juga. Prosesnya berlangsung sangat cepat. Pasca pilpres, mobilitas gubraker HK terlihat sangat agresif. Dari yang awalnya beberapa orang, menjadi puluhan. Dari yang awalnya iseng mengisi waktu luang, pada medio Februari 2015 mereka mendeklarasikan berdirinya Gubrak cabang Hongkong. Hingga hari ini, sudah banyak kegiatan yang mereka lakukan untuk pengembangan organisasi. Mulai dari menghimpun dana untuk kegiatan sosial, donor darah, arisan komunitas, hingga membentuk perpustakaan kecil-kecilan dan kegiatan lainnya.
Kejadian unik semacam ini sebenarnya bukan satu – satunya peristiwa yang melingkupi perjalanan komunitas. Bahkan proses awal berdirinya komunitaspun tak lepas dari hal – hal yang layak dijadikan bahan guyonan. Hanya berawal dari iseng ‘ngerjain’ kawan dengan sms setiap subuh, lalu muncul ide membentuk komunitas. Nama komunitasnyapun terkesan asal-asalan. GUBRAK (Gerakan Untuk Bangun Rada Awal Kawan). Tidak ada agenda besar di awal berdirinya organisasi. Hanya sebagai wadah melepaskan penat, mencari partner dalam candaan, dan kalaupun ada yang penting, adalah membangun semangat nasionalisme yang tentunya sesuai dengan gaya komunitas.
Pada akhir 2015, menyusul berdiri komunitas Gubrak cabang Kebagusan, Jakarta Selatan. Tempat dimana penulis berdomisili. Nyaris sama uniknya dengan proses terbentuknya Gubrak Hongkong, berdirinya komunitas lokal di Kebagusan juga melalui proses yang tidak wajar. Sebagai catatan, meski penulis bermukim di Kebagusan, nyaris tidak banyak warga terutama sekitar kami tinggal yang mengenal komunitas Gubrak Indonesia. Adalah konflik terkait tempat ibadah dimana penulis terlibat di dalamnya yang membuat orang kemudian mulai mengenal komunitas. Hingga tulisan ini dibuat, geliat komunitas Gubrak cabang Kebagusan terus berdenyut. Meski Gubrak bukan organisasi agama, tapi di Kebagusan kami berkolaborasi dengan pengurus (yang sebagian besar anggota Gubrak) tempat ibadah setempat mendirikan kegiatan belajar – mengajar berbasis keagamaan. Kami juga membuat posko, dimana hampir setiap hari berkumpul dan berdiskusi. Serta melakukan kegiatan lain yang tentu saja bermanfaat untuk khalayak. Sama seperti Gubrak cabang Hongkong, Gubrak Kebagusan juga menghidupi kegiatan atas dasar sumbangan anggota dan tidak menggantungkan bantuan dari luar.
Pencapaian ini tentu bukan akhir dari semuanya. Namun, justru merupakan awal yang baik untuk terus mengembangkan ide dan pemikiran kita. Untuk itu, partisipasi semua pihak mutlak dibutuhkan. Bukan saja partisipasi Gubraker yang selama ini memang sudah aktif berorganisasi, akan tetapi kami juga menunggu sumbangsih serta dukungan para senior yang barangkali mulai kurang aktif karena banyaknya kesibukan.
Terakhir,
Di momen milad #6UBRAK INDONESIA ini, penulis mewakili seluruh elemen komunitas dengan tulus menyatakan rasa terimakasih kepada,
- Laila Fitri dan gubraker HK lainnya, yang telah menginisiasi berdirinya komunitas Gubrak Hongkong. Maju terus !!!.
- Bang Ade Wahyudin, bang Ahmad Akbar dan kawan – kawan yang sudah bersusah payah membangun komunitas cabang Kebagusan. Semangat, brow !!!.
- Para admin sms subuh yang masih aktif (mbak Tari, mbak Savina, mas Mas’ud), dan juga admin lain yang pernah bertugas sebagai operator SBS. Tanpa kalian, kita bukan apa – apa.
- Anggota senior yang pernah malang melintang dan berkorban banyak untuk komunitas. Kang Suryo Tanggono, kang Luthfi Harits,kang Nuzar, kang Subhan, kang Aang Arif Amrullah, kang Mustofa Kamal (alm), kang Rudy, kang Guztra, mbah Sastro, kang Sutejo, mbak Istiqomah, mbak Yuyun Andrea (Probolinggo), mbak Dhea, mbak Rini Buchori dan segenap kawan yang belum kami sebut satu persatu. Kami selalu merindukan kalian...
- Operator media online Gubrak Indonesia, kang Epoy Arif Rahman. Ditunggu karya selanjutnya.
- Perancang logo Gubrak, Muchlis Efendi. Mana semangatmu !!!
- Guru sekaligus penjaga moral organisasi, abah Nuril Arifin (Sokotunggal), mbah Begawan Munir Sempruliyyah (Malang), Kyai Ahmad Hudaya (Karanganyar) dan sesepuh lainnya yang belum kami sebut.
Dan tak lupa untuk Gubraker dunia akhirat. I Love You full....
Dirgahayu #6UBRAK INDONESIA
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya.