100 kurang 1 Cahaya di Langit Hongkong

Gubraker.com - Siapa yang tidak tergiur, kerja dengan gaji sebulan minimal 4000 dollar HK atau sekitar 7,2 juta rupiah (kurs 1800) ?. Sebuah angka yang barangkali setara dengan penghasilan seorang guru PNS strata terendah. Dengan pekerjaan yang relatif lebih ringan, terutama jika dibandingkan dengan pekerjaan yang biasa dilakoni di kampung halaman. Di Jakarta saja yang secara finansial merupakan kota dengan perputaran uang terbanyak se Indonesia, gaji standar UMR hanya berkisar di angka 3 jutaan. Khusus untuk profesi pembantu rumah tangga bahkan seringkali lebih rendah dari itu. Ini belum bicara soal fasilitas. Apakah itu mengenai hari libur, perlindungan tenaga kerja, jaminan kontrak kerja dan lain sebagainya. Menggunakan logika matematika sederhana, dengan gaji sebesar itu, seorang buruh migran dalam satu tahun bisa jadi sanggup mengumpulkan uang minimal 60 – 80 juta rupiah. Menggiurkan sekali, bukan ?. Tapi tunggu dulu,
Apa yang saya tulis diatas sepertinya hanya logika matematika belaka. Fakta di lapangan, sepanjang penelitian penulis, nyatanya tidaklah seindah yang kita kira. Bicara pekerjaan, tentu kita bicara soal hasil. Apakah dengan berprofesi sebagai buruh di negeri orang menjadikan si pelaku lebih mapan secara ekonomi atau tidak ?. Apakah dengan membawa modal dari negeri seberang, membuat mereka mampu survive sekembalinya dari perantauan atau tidak ?. Jika iya, maka profesi buruh migran tentu menjadi layak untuk dijadikan sebagai pekerjaan favorit. Memang, secara teoritis semua kembali pada masing-masing pribadi. Apakah mereka mampu memanajemen ekonominya atau tidak.
Sekarang, mari kita bicara tentang hal-hal yang seringkali kita lupakan dalam bekerja. Tentang kendala teknis dan non teknis yang kadang di luar pikiran kita. Perlu pembaca ketahui, meski penghasilannya cukup tinggi, menjadi buruh migran bukan sesuatu yang mudah. Banyak sekali persyaratan yang mesti dipenuhi. Baik mengenai dokumen, kesehatan dan yang paling penting lagi adalah modal.
Narasumber yang kami wawancarai (kami menggunakan sampel buruh migran Hongkong) mengatakan bahwa uang yang mesti dikeluarkan untuk mendapatkan satu pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga tidaklah sedikit. Untuk kontrak awal selama dua tahun, seorang pekerja mesti mengeluarkan modal sebesar 15 juta rupiah bahkan lebih. Beberapa diantaranya bahkan angkanya lebih dari itu. Apalagi jika seorang calon buruh migran harus menginap dalam jangka lama di PT sembari menunggu panggilan kerja, maka pengeluaran yang harus dibayar lebih tinggi lagi. Meski ada keringanan, yakni berupa pemotongan gaji bila tidak membayar biaya di muka, tetap saja biaya itu menjadi beban yang harus dipanggul seorang calon buruh.
Biaya hidup selama bekerja di perantauanpun jangan dikira sedikit. Salahsatu narasumber kami menerangkan bahwa pengeluaran untuk satu buruh migran dalam sebulan setidaknya mencapai 1000 dollar HK atau seperempat dari gaji mereka. Untuk pakaian, dandan, jajan, liburan dan keperluan lainnya. Angka diatas tentu saja berkategori paling irit. Bagi mereka yang tipenya pesolek dan hoby shopping, sudah pasti jauh lebih besar dari itu. Maka tak heran jika banyak sekali buruh migran yang sudah bertahun-tahun bekerja, hasilnya nihil. Karena uangnya habis untuk menyenangkan hati.
Hal lain yang seringkali menimpa buruh migran kita di perantauan adalah ancaman PHK dari para majikan yang merasa kurang puas dengan kinerja pegawainya. Sumber kami, Lulu (bukan nama sebenarnya) misalnya, baru sebulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, mesti menghadapi PHK sepihak. Konsekuensinya ia harus mencari majikan baru lagi melalui agen. Biayanya lumayan besar. 6000 dollar HK atau sekitar 11 juta rupiah. Itu untuk biaya penempatan. Belum termasuk biaya hidup sehari-hari yang harus ia keluarkan selama menunggu turunnya visa. Biasanya waktu tunggu visa sekitar sebulan. Penulis membayangkan, apa jadinya jika seorang buruh migran harus mengalami PHK berulang ulang ?. Bisa-bisa pulang tinggal pakaian di badan saja.
Tantangan lain yang tak kalah memprihatinkan lagi tentu saja masalah persepsi sebagian masyarakat. Apakah itu keluarga mereka maupun masyarakat lain. Kebanyakan kita berfikir bahwa TKI itu lumbung uang. Tak ada salahnya memanfaatkan mereka secara finansial. Tak heran jika kemudian terjadi proses eksploitasi buruh migran oleh pihak-pihak lain. Baik itu oleh agen, oknum di lembaga pemerintahan, kreditor, pelaku bisnis, kelompok masyarakat tertentu, bahkan individu-individu di sekitar mereka. Hal – hal demikian rupanya yang membuat taraf hidup buruh migran kita tak jua kunjung membaik.
Penelitian kami di komunitas Gubrak Indonesia yang sebagian anggotanya merupakan buruh migran mencatatkan fenomena memprihatinkan. Dari 30an gubraker yang bekerja sebagai buruh migran, 80% nya telah menjalani masa kerja di atas 2 tahun. Bahkan ada yang hingga belasan tahun. Itu artinya, ada kesulitan yang sangat mendasar bagi mereka untuk kembali dan menemukan pekerjaan yang setara di kampung halaman. Oleh sebab itu, mereka lebih memilih memperbarui kontrak kerja di perantauan daripada menggunakan modal yang mereka dapat dari sana untuk memulai profesi baru di negeri sendiri. Jika kita menilik dari kemampuan para pekerja migran ini dalam mengumpulkan finansial, rasanya jauh dari kata memuaskan. Separuh bahkan lebih, hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari untuk dirinya dan juga keluarga di Indonesia. Sedikit sekali yang mampu menghasilkan sesuatu yang lebih. Misalnya, membeli sebidang tanah, membuka usaha rintisan di kampung halaman dan lain sebagainya. Situasi lingkungan keluarga mereka yang notabene berpenghasilan pas-pasan bahkan kurang menjadi salahsatu penyebab buruh migran kita kesulitan untuk keluar dari jurang kemiskinan. Betapa banyak dari mereka yang harus menafkahi secara keseluruhan kebutuhan keluarganya di kampung. Suami yang tidak bekerja, orangtua yang telah renta dan sakit-sakitan, anak yang makin lama semakin membutuhkan biaya besar dan lain sebagainya.
Kisah-kisah buruh migran yang pulang tanpa menghasilkan apa – apa bukan sesuatu hal baru lagi. Ada banyak cerita. Bahkan mereka yang awalnya membawa modal besar dan mencoba peruntungan dengan membuka usaha di kampung halaman, tak jarang harus gigit jari akibat mengalami kegagalan. Kalau kata Gubraker Hongkong, “cantiknya paling hanya beberapa bulan, setelah itu kembali seperti semula”.
Seorang kawan tadi pagi meminta pendapat pada penulis. Bagaimana jika ia berinisiatif menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kegiatan sosial ?. Tentu ini adalah niat yang sangat mulia dan layak jadi contoh bagi kita semua. Akan tetapi perlu juga diperhatikan apakah kegiatan itu membawa dampak secara ekonomis bagi dirinya dan keluarganya atau tidak. Sebab, sia-sia belaka jika ia berhasil menyejahterakan orang lain sementara keluarganya sendiri belum sejahtera. Mengutip dari teks kuno ‘kuu anfusakum wa ahlikum nar’ , jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka.
Itu kenapa penulis sebagai ketua komunitas Gubrak Indonesia seringkali menghimbau agar Gubraker yang berprofesi sebagai buruh migran tidak terlalu ‘jor-joran’ beramal sosial. Bukan sekedar untuk menjaga gap antara gubraker yang berpenghasilan lumayan dan berpenghasilan pas-pasan dalam berkontribusi terhadap organisasi, tapi juga memperhatikan kepentingan ekonomi mereka sendiri. Bagi penulis, selama anda masih bekerja di perantauan, itu artinya belum sejahtera lahir-batin. Bukankah sering kita ungkapkan, bahwa keluarga adalah segala-galanya ?. Bahwa kebersamaan yang tanpa jarak dengan keluarga adalah kenikmatan yang tak ternilai harganya ?.
Maka, bekerjalah dengan baik. Bangunlah tujuan yang pasti, hiduplah dengan cara yang sederhana, lalu beramallah sekuat tenaga. Mulai dari diri sendiri, keluarga, handai taulan dan masyarakat.
Doa penulis, semoga semua bisa indah pada waktunya....
Anggota Gubraker Hongkong


Tanah airku tidak kulupakan 
Kan terkenang selama hidupku 
Biarpun saya pergi jauh 
Tidak kan hilang dari kalbu 
Tanah ku yang kucintai 
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negri kujalani 
Yang masyhur permai dikata orang 
Tetapi kampung dan rumahku 
Di sanalah kurasa senang 
Tanahku tak kulupakan 
Engkau kubanggakan 
Syair by Ibu Sud (Tanah Airku)