Tepis Perpecahan, Gubraker HK Gelar Konsolidasi

(Hongkong, 5/10) Berlokasi di kawasan Causeway Bay, siang itu Gubraker Hongkong menggelar pertemuan antar anggota. Tidak seperti beberapa waktu yang lalu, kali ini tingkat kehadiran Gubraker relatif lebih semarak. Hampir sebagian besar Gubraker hadir dalam acara konsolidasi organisasi yang dibarengi perayaan ulang tahun salahsatu Gubraker Hongkong. Diantaranya, Laila Fitri, salahsatu inisiator berdirinya komunitas Gubrak di Hongkong. Lalu, Sri Cahyani, Mamiek, Cindy, Saviena, Kevin dan lain sebagainya. 

Pertemuan yang berlangsung hari Senin, 2 Oktober 2017 itu seolah menjawab berita negatif soal komunitas. Sebelumnya sempat diberitakan, komunitas Gubrak Hongkong yang sudah tiga tahun berdiri mulai banyak ditinggalkan anggotanya. 

"Ahhh...itu bisa - bisanya yang bikin berita saja" tepis Sri Cahyani menanggapi berita minor tentang Gubrak Hongkong.

"Kemarin - kemarin memang kita kita lagi banyak kesibukan. Jadi, belum sempat kumpul bareng teman - teman. Sekarang, alhamdulillah bisa hadir".

Lebih lanjut, single parent asal Lampung yang juga aktif di organisasi buruh IMWU ini menyatakan bahwa segala sesuatu mengenai program kerja komunitas sedang dirundingkan. Harus diakui, bahwa tidak mudah menyelaraskan berbagai macam pikiran. 

"Kita selesaikan satu - satulah, ya. Doakan saja" imbuh Mamiek, wanita bertubuh sintal yang duduk disamping Sri Cahyani.

Saat kontributor gubraker.com menanyakan tentang program apa saja yang akan dikerjakan komunitas Gubrak Hongkong, secara diplomatis korlap HK, Saviena mengatakan, 

"Tunggu saja kejutannya".
Biar tekor, asal kesohor

Mangan ora mangan, ngumpul




Gaya pas abis makan

Apa Kabar, Gubraker Hongkong ?

Keningnya sontak berkerut. Bola matanya yang tajam dengan alis lentik berwarna hitam legam perlahan mengerucut. Tak ada secuil kalimatpun yang terlontar dari bibir tipis tanpa gincu itu. Hanya tarikan nafas berat yang tersisa. Seolah ada beban berton - ton yang menjejali otak dan pikirannya. 

"Biar Kevin aja yang ngomong" ucapnya sembari mengarahkan pandangannya pada sosok tambun berambut pendek disampingnya. 

 "Aku ?" bingung. 

"Nggak...nggak...nggak. Cindy aja" lemparnya pada anggota Gubrak cabang Hongkong lainnya. 

Dan reaksi yang kami lihatpun tak jauh beda. Sepertinya mereka enggan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di komunitas Gubrak Indonesia cabang Hongkong. Kenapa cabang Hongkong yang dulu sangat solid dan eksis kini terlihat lesu dan tak berdaya.
Pantauan kami di lapangan, base camp Gubraker di kawasan Causeway Bay memang tak lagi seriuh dulu. Hanya beberapa gubraker yang menyempatkan diri menghabiskan liburan di sana. Tak lebih dari enam orang. Itupun separuhnya adalah wajah - wajah baru yang belum kami kenal. Meski obrolan diantara mereka terlihat cair, tapi gregetnya masih kurang. Jauh berbeda dengan suasana setahun silam. Selain jumlahnya lebih banyak, keakraban diantara mereka juga lebih renyah. 


Catatan gubraker.com, aktifitas cabang Hongkong dari dulu memang dikenal cukup menonjol. Kegiatan yang mereka lakukan tidak melulu hanya sebatas kumpul - kumpul semata. Banyak hal positif yang telah dihasilkan. Mengumpulkan donasi untuk disalurkan pada pihak yang membutuhkan, menggelar donor darah, arisan dan selalu ambil bagian dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas. 

"Nanti saya kasih tahu".

Perempuan dengan balutan busana warna putih dengan bawahan merah yang kami kenal bernama Saviena itu berbisik pada gubraker.com. Sedetik kemudian kami baru paham, mungkin ia merasa tidak enak untuk bicara terus terang soal kondisi terkini cabang Hongkong di depan anggota - anggota baru. Akhirnya, kamipun harus rela menyisakan waktu untuk menunggu. Dan untuk mengisi waktu, kontributor gubraker.com mencoba mengambil gambar dengan iming - iming 'nanti masuk koran online loh'.

Matahari perlahan bergeser ke barat. Menyisakan bayangan sepenggalah. Pertanda sore sebentar lagi akan menjemput. Acara terakhir yang ditunggu tunggupun tiba. Makan - makan. Entah dibeli didapat dari mana, menu makanan yang disajikan ternyata tak jauh beda dengan makanan Indonesia. Nasi Padang.

"Kalau di tempat kerja, susah cari beginian" celetuk Cindy.

"Palingan roti tawar. Atau kalau nggak, ya ubi. Hehehehe ..." lanjutnya terkekeh.

"Ngomong - ngomong, seporsi Nasi Padang begini harganya berapa di sini ?" tanya kami.

"Nggak mahal. Cuma 60" Kevin.

"Ribu rupiah ?" masih belum paham.

"Dollar Hongkonglah".

"100 ribu rupiah ?".

"Ya".

"Tapi itu yang standar. Kalau lauknya macem - macem ya bisa lebih" sahut Cindy.

"Mahal juga ya" kami geleng geleng.

"Trus, kalau misalnya ada TKW yang nggak doyan menu lokal dan hanya doyan makanan Indonesia gimana ?" tanya kami menyelidik.

"Ya kudu belilah" Saviena.

"Abis dong gajinya buat makan ?".

"Bukan habis lagi. Tapi nombok" celetuk gadis belia bertubuh kecil dengan kaos bertuliskan 'Gubraker Hongkong' yang duduk di posisi paling ujung.

Sekilas, makanan Indonesia yang di jajakan di Hongkong tidak jauh beda dengan menu serupa di dalam negeri. Hanya saja dari segi rasa, masih lebih lezat yang dijajakan di Indonesia. Entah kenapa bisa begitu.

Setelah makan bersama selesai dan tampaknya hari semakin sore. Satu persatu dari mereka pamit untuk pulang ke tempat kerjanya masing - masing atau melanjutkan liburan di tempat lain. Hanya tersisa tiga orang. Cindy, Saviena dan Kevin. Dua diantaranya kami ketahui memang anggota senior komunitas Gubrak cabang Hongkong.

"Yahhh...beginilah keadaannya" Saviena membuka cerita.

"Kendalanya macam - macam. Ada yang pulang kampung untuk seterusnya. Ada yang sibuk beraktifitas di tempat lain. Ada yang mikir mau nikah. He he he....".

"Kita nggak bisa paksa juga. Kan kalau kata Komandan (merujuk ke ketua Gubrak), di komunitas nggak boleh ada kekangan. Semua harus sukarela. Wong ora bayaran wae kok mekso, katanya gitu" imbuh Cindy.

"Kalau ketemuan kecil - kecilan kayak gini sih sering. Lala, mbak Anna, Jutex, Comal, mbak Mamiek dan lain - lain suka ketemu. Tap ya gitu, nggak bisa bareng - bareng semua kumpul. Pinginnya sih kumpul bareng kayak dulu lagi. Trus ada yang diobrolin untuk komunitas. Kita mau bikin apa gitu. Tapi....ya gimana lagi" Kevin menjelaskan.

"Terus, rencana ke depan gimana ?" tanya kami.

"Yo wis, mlaku sak onone ae. Kuat dilakoni, gak kuat tinggal ngosek WC. Wkwkwkwk..." timpal Cindy yang dibarengi dengan ledakan tawa semua orang.

Hidup terkadang memang begitu
Ada yang datang dan berlalu
Ada riang, juga tangis sendu
Tak selalu harus senang, adakalanya pilu

Tapi...
Persahabatan 
Tetaplah persahabatan
Jika raga tak terjangkau tangan
Maka batin yang menjerit kerinduan

Hongkong, 24 September 2017
 

DILEMA CINTA

"Manusia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga"
Pict : downloadgambarkata.com

Ketika kita melakukan sesuatu, yang ada dalam hati kita tentu adalah harapan agar mendapatkan imbalan yang layak, dan kalau perlu berlebih. Itu wajar dan sangat manusiawi. Sah sah saja, kita bermimpi, sebab dengan begitu kehidupan akan terus berjalan, semangat akan terus menyala dan dunia menjadi hingar bingar.
Seorang pelajar, ia giat belajar dan haus akan ilmu pengetahuan. Dengan harapan kelak ia bisa menjadi manusia yang pintar. Pedagang, ia gigih mengumpulkan kepingan uang dengan harapan kelak ia menjadi orang kaya. Para pecinta, mereka berjuang dengan segenap jiwa raga demi berharap mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan banyak lagi perumpamaan lainnya.

Manusia dikaruniai dua hal oleh sang pencipta. Nafsu dan nurani. Nafsu mendorong manusia untuk terus berkreasi, menciptakan pencapaian baru, menghadirkan rasa ingin dan mengajak manusia untuk mewujudkan hasratnya. Sementara nurani, mendorong manusia untuk tetap menginjak bumi, bersyukur, ikhlas dan memandang segala sesuatunya secara wajar. Dua hal inilah yang akhirnya menciptakan konflik batin. Antara keinginan dan rasa syukur, antara mimpi dan kenyataan serta seringkali antara kebenaran dan kebatilan. Nafsu mengajak kita untuk selalu merasa kurang, sementara nurani mengajak kita untuk merasa cukup.

Cinta. Tidak bisa dipungkiri selalu menyertakan dua kutub diatas dalam posisi yang senantiasa berseberangan. Oleh sebab itu, perjalanan cinta seseorang, mau tidak mau, akan selalu dikawal dan di kontrol oleh kedua hal tersebut. Jika nafsu yang lebih mendominasi, maka logikanya menjadi mandeg dan kadang terabaikan. Tak heran, kemudian muncul istilah 'cinta itu buta'. Sebab cinta yang dikuasai oleh nafsu menjadikan seseorang melupakan apa saja. Melupakan kawan, melupakan keluarga, melupakan hal lainnya, bahkan dia juga lupa akan penderitaannya sendiri. Tapi, jika nurani lebih mendominasi, maka akal sehat yang tercipta. Segala sesuatunya dilandaskan pada azas manfaat. Apakah itu memberi manfaat pada diri sendiri dan orang lain atau tidak, kelangsungan percintaan ditentukan.

"Manusia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga"
Kenapa bisa demikian ?.

Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya kita sejenak intropeksi diri sendiri. Menggali kembali pengalaman pengalaman hidup yang pernah kita lalui. Lalu tanyakan pada diri sendiri, sudahkah kita mendapatkan yang kita inginkan ?.

Dalam sebuah keinginan, selalu terselip mimpi. Mimpi bisa bahagia, mimpi bisa meraih kesenangan, dan mimpi menggapai kenyamanan.

Si fulan adalah pejuang cinta yang gigih, ia rela melakukan apa saja demi mendapatkan cintanya. Dan demi itu ia rela berlaku layaknya hamba sahaya. Lalu kegigihannya beroleh hasil. Ia bisa mendapatkan pujaan hatinya melalui sebuah drama perkawinan yang itu ia anggap sebagai sebuah pencapaian akhir dari seluruh keinginannya.

Lantas, apakah dengan begitu ia kemudian mendapatkan rasa bahagia, senang dan nyaman ?. Belum tentu.
Nafsu itu mendorong seseorang untuk terus berkreasi, menciptakan hal baru dan meminta lebih. Setelah ia mendapatkan hasil melalui ritual perkawinan, ia dihadapkan pada dua hal. Bagaimana mempertahankan yang sudah ia miliki, kemudian bagaimana ia bisa mengendalikannya sesuai yang diinginkan.

Menghadapi sesama manusia tidaklah sama dengan berinteraksi dengan benda mati. Apa yang ada dalam diri kita juga ada dalam dirinya. Apa yang tidak ada dalam diri kita juga tidak ada dalam dirinya. Jika kita memiliki hasrat atau niat untuk menguasai, mengatur dan mengendalikan, maka iapun sama. Oleh sebab itu, apa yang kita inginkan tentu akan selalu berbenturan dengan keinginannya pula.

Disinilah kenapa manusia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga.

Mengejar cinta tak ubahnya seperti mengejar bayang bayang kita sendiri. Semakin kita kejar, ia semakin menjauh dari kita. Tapi jika kita diam, bayangan itu akan menempel ketat dan terus memburu kita. Begitulah adanya cinta. Apapun status dalam sebuah hubungan. Apakah itu perkawanan, persaudaraan, pacaran maupun pernikahan, akan mengalami hal yang sama. Makin kita kejar, ia semakin menjauh.

Jalan terbaik adalah mengembalikan supremasi nurani, menegakkan akal dan pikiran. Jika dengan perasaan, segala sesuatunya masih buntu, sebaiknya memang perlu menggunakan logika. Sangat naif, jika kita mengejar sesuatu yang padahal dia sama sekali tidak pernah menganggap kita penting. Lebih tragis lagi jika kita mengejar sesuatu yang kita menganggapnya sangat penting, namun tidak jua kita dapatkan. Sementara kita lupa, ada banyak orang yang menganggap diri kita penting, tapi kita abaikan.

Perhatikan petuah cinta ini ...

"Berdirilah bersama dengan orang orang yang begitu gigih membelamu, sebab kemuliaanmu terletak pada bagaimana sikapmu menghargai pengorbanan orang di sekitarmu"

"Bangunlah mahligai biru dengan orang yang siap sedia bertengkar denganmu selamanya tanpa merasa bosan. Sebab disitulah engkau akan mengecap manisnya cinta"

"Yang membuatmu merasa nyaman bukan karena sesuatunya telah engkau dapatkan, akan tetapi mensyukuri yang sudah kau dapatkanlah yang membuatmu nyaman"

"Jika cinta, membuat nuranimu terjaga, maka bertahanlah. Dan pergilah jika itu justru membuatmu lupa segalanya".

"Alasan untuk pergi, adalah karena adanya harapan. Sementara alasan bertahan adalah rasa nyaman. Pertama hanya sebatas asa, dan kedua adalah fakta".

Silham Robith Syah dan Ibuk E Fariz Menangkan Pemilu Raya 2016

Setelah melalui pertarungan ketat di final melawan pasangan nomer urut 3, Yahya Wijaya - Cindy Kirana Majjid, akhirnya pasangan nomer urut 2 Silham Robith Syah - Ibuk E Fariz keluar sebagai juara Pemilu Raya dengan membukukan 394 suara. Unggul 23 suara atas kandidat nomer urut 3 yang mengumpulkan suara 371. Dari pantauan Gubraknews di lapangan, pertarungan final kali ini memang berlangsung sangat dramatis.
Silham Robith Syah (Malang) - Ibuk E Fariz (Hongkong)
Yahya Wijaya (Jember) - Cindy Kirana Majjid (Hongkong)

Di hari pertama, pasangan asal Malang dan Hongkong (nomer urut 2) langsung menggebrak dengan terus memimpin jalannya pertandingan dan membukukan skor 172. Sementara pesaingnya yang asal Jember - Hongkong terus menguntit dengan raihan 165 suara. Hari kedua, pertarungan berlangsung lebih ketat lagi. Selisih poinnyapun tidak pernah lebih dari 5 angka. Rally rally angka berlanjut hingga hari terakhir. Pada pukul 14.00 WIB pasangan Yahya Wijaya - Cindy Kirana Majjid bahkan sempat mengungguli pesaingnya dengan margin poin 254 - 249. Keunggulan pasangan ini kemudian terus bertahan hingga menjelang tengah malam. Malapetaka datang justru di saat menjelang lomba ditutup. Kubu nomer 2 yang pantang menyerah tampil sangat agresif di menit terakhir. Tepat pukul 23.42 pasangan ini akhirnya berhasil menyamakan kedudukan. 15 menit menjelang penutupan situasi berubah drastis. Kubu nomer 3 tampak keteteran menghadapi agresifitas lawan. Hingga akhirnya menyerah di akhir lomba.

"Ini seperti mengulang sejarah tahun lalu. Kami sempat unggul, tapi di menit terakhir kebobolan dan kalah. Sedih. Tapi kami menghormati hasil. Selamat untuk pasangan nomer urut 2" ungkap Cindy Kirana Majjid dengan raut wajah diliputi rasa kecewa.